TRAFIKING (PERDAGANGAN) PEREMPUAN DAN ANAK
Trafiking perempuan dan anak merupakan pelanggaran berat HAM yang mengakibatkan penderitaan fisik dan mental korban, mengganggu tumbuh kembang anak, tertular penyakit seksual kelamin dan menghilangkan masa depan.
Trafiking merupakan segala tindakan yang mengandung satu atau lebih; tindakan perekrutan, pengangkutan antar daerah / Negara, pemindahan tangan, pemberangkatan, penerimaan, dan penampungan sementara, dengan cara ancaman atau penggunaan kekerasan verbal atau fisik, penculikan, penipuan, tipu muslihat, pemanfaatan posisi kerentanan, memberikan / menerima pembayaran / keuntungan, dimana perempuan dan anak-anak digunakan untuk tujuan pelacuran, exploitasi seksual, buruh migrant legal maupun illegal, adopsi anak, pekerja jermal, pengantin pesanan, pembantu rumah tangga, industri pornografi, pengedar obat terlarang, pemindaha organ tubuh serta bentuk exploitasi lainnya.
Kita semua tahu bahwa tiap manusia mempunyai hak asai yang melekat pada dirinya sebagai manusia. HAM itu sendiri tercantum dalam Deklarasi umum HAM PBB-1948 dan UU 39 th 1999 tentang HAM yang menyebutkan pada dasarnya manusia mempunyai :
- Hak untuk hidup
- Hak untuk tidak disiksa
- Hak kebebasan pribadi, pikiran, dan hati nurani
- Hak untuk tidak diperbudak
- Hak reproduksi, dll
Nah…dalam trafiking sudah terjadi ancaman, penyiksaan, penyekapan, kekerasan seksual yang kesemuanya merupakan pelanggaran HAM.
Trafiking di Indonesia belum ada kepastian datanya karena ini merupakan perdagangan gelap yang merupakan fenomena gunung es. Yang nampak hanya kasus-kasus yang dilaporkan, padahal kasus sebenarnya jauh lebih besar. Diperkirakan 30% dari jumlah pelacuran adalah anak korban trafiking (UNICEF 1998) dan pada tahun 2000, kepolisian RI melaporkan 1683 kasus perdagangan perempuan.
Bentuk-bentuk trafiking di Indonesia..dijadikan pelacur, pengemis, pengedar obat terlarang, korban pedofilia, istri kontrak, pornografi, adopsi, PRT dengan jam kerja panjang, dll.
Sedangkan faktor yang menyebabkan adanya trafiking…Kemiskinan, Pendidikan Rendah, Pengangguran, Ketahanan keluarga yang rapuh, Penegakan hokum yang belum konsisten, Konsumerisme, Ketidak setaraan antara laki-laki dan perempuan, Dorongan penyiaran dan tulisan porno di media, dll.
Dengan faktor-faktor beragam itu, upaya penghapusannya pun memerlukan upaya yang menyeluruh, seperti…Promotif dan preventif termasuk didalamnya kegiatan pemberdayaan keluarga dan peningkatan cakupan dan kualitas pendidikan, Perlindungan dan penegakan hokum bagi korban, Kerjasama Internasional, serta Peningkatan partisipasi perempuan dan anak/diri sendiri untuk mencegah dan menghapuskan trafiking.
Oleh sebab itu selamatkan Perempuan dan Anak agar tidak diperdagangkan.
Jakarta, 19 Juli 2006
-dEe-
Monday, June 26, 2006
Monday, June 19, 2006
TUBUH KAMI DIPERSALAHKAN
Kami tidak pernah setuju dengan adanya pornoaksi dan pornografi namun ketika peraturan yang dibuat justru mengancam kami, jelas kami berontak…
Kami bukan perempuan binal, cabul atau yang lainnya, kami hanya tidak ingin tubuh kami dipersalahkan dan dimintai pertanggungjawaban atas merosotnya moral bangsa ini.
Kami menolak dikatakan bahwa tubuh kami adalah pusat dan sumber dari semuu kejahatan yang terjadi. Bila terjadi suatu tindak pelecehan bahkan sampai tindak perkosaan, kami sebagai korban tetap sebagai pihak yang salah karena lah yang mengundang terjadinya tindakan tersebut.
Kami tidak mau didiskriminasikan dan kami tidak ingin tubuh kami dieksploitasi secara berlebihan.
Kami berhak atas tubuh kami…lalu mengapa harus diatur oleh Negara dan Pemerintah.
Kami dituduh sebagai perusak moral bangsa. Tubuh kami dijadikan ukuran moral laki-laki, tubuh kami disebut sebagai pusat terjadinya tindak kriminalitas dan kejahatan.
Sungguh, Malang benar nasib kami.....
Entah kepada siapa kami harus mengadu dan meminta perlindungan…
-dee-
Kami bukan perempuan binal, cabul atau yang lainnya, kami hanya tidak ingin tubuh kami dipersalahkan dan dimintai pertanggungjawaban atas merosotnya moral bangsa ini.
Kami menolak dikatakan bahwa tubuh kami adalah pusat dan sumber dari semuu kejahatan yang terjadi. Bila terjadi suatu tindak pelecehan bahkan sampai tindak perkosaan, kami sebagai korban tetap sebagai pihak yang salah karena lah yang mengundang terjadinya tindakan tersebut.
Kami tidak mau didiskriminasikan dan kami tidak ingin tubuh kami dieksploitasi secara berlebihan.
Kami berhak atas tubuh kami…lalu mengapa harus diatur oleh Negara dan Pemerintah.
Kami dituduh sebagai perusak moral bangsa. Tubuh kami dijadikan ukuran moral laki-laki, tubuh kami disebut sebagai pusat terjadinya tindak kriminalitas dan kejahatan.
Sungguh, Malang benar nasib kami.....
Entah kepada siapa kami harus mengadu dan meminta perlindungan…
-dee-
Membongkar Mitos Ibu...
“MEMBONGKAR MITOS IBU”
Diantara sekian banyak mitos yang selama ini membingkai persepsi kita mengenai realitas, mitos-mitos gender dan identitas seksual mungkin merupakan mitos yang paling ilusif, paling dianggap natural (Solomon, 1988:48). Kita biasa mengasumsikan bahwa identitas seksual merupakan sesuatu yang given, yang tidak ditentukan secara cultural, melainkan secara natural. Mitos-mitos gender pada umumnya berupa perangkat2 ciri psikologis dan sosial yang berstruktur biner dan hierarki, yang disebut oleh Hellene Cixous sebagai pemikiran biner patriarchal (patriarchal binary thought), misalnya laki-laki rasional-perempuan intuitif; laki-laki aktif-perempuan pasif; laki-laki mencari nafkah-perempuan merawat akan dirumah; dan seterusnya.Dalam hal ini tercakup sebuah kepercayaan yang menyatakan bahwa Locus kepuasan hidup laki-laki adalah pekerjaan atau kariernya, sementara kebahagiaan perempuan adalah rumah (-tangga) dan keluarga. Kepercayaan tradisional bahwa “tempat perempuan adalah di dalam rumah”.
Ada sebuah mitos yang tak kalah hegemonisnya adalah bahwa untuk menjadi seorang ibu yang sesungguhnya perempuan harus (mampu) melahirkan anaj, secara ‘normal’ pula. Bila belum pernah melahirkan seperti itu atau tidak mempunyai anak, belum lengkaplah ke-“wanitaan”-nya. Ibu sejati adalah menjadi ibu secara biologis.
Berikit beberapa kerancuan konseptual ketika kita hendak mendefinisikan sosok “ibu”. Pertama, bahwa peran ibu hanya dapat dimainkan oleh jenis kelamin tertentu, yaitu perempuan yang pernah melahirkan. Kerancuan kedua masih berhubungan dengan yang pertaa, terlihat dari anggapan bahwa seorang ibu adalah perempuan yang mengasuh anak-(anak)nya. Definisi ini dikatakan rancu karena buta terhadap perbedaan yang tegas antara ibu biologis (biological mother) dan ibu sosial (social mother).
Ann Oakley (1974; via Tong,1989:84-87), seorang feminis radikal, mencoba menolak dengan berargumentasi bahwa peribuan merupakan sebuah mitos yang disandarkan pada kepercayaan lapis tiga, yaitu bahwa (1) semua perempuan harus menjadi ibu, untuk sekedar mendapatkan harga dirinya sebagai “wanita” atau “ibu sejati”; (2) semua ibu membutuhkan anak, ini dikaitkan dengan “naluri keibuan” yang rupanya dikonstruksi secara cultural dan kecakapan untuk memainkan peran sebagai ibu ternyata harus dipelajari lebih dulu, “Mothers are not born; they are made,”; dan (3) semua anak membutuhkan seorang ibu, pada kenyataannya anak-anak tidak semata-mata membutuhkan ibunya lebih daripada ayahnya. Yang dibutuhkan seorang anak adalah orang (-orang) yang bisa menjalin relasi intim dengannya yaitu mereka yang dapat dipercaya dan bersedia menjadi sandaran, yang mau mengasuh dan merawatnya tanpa jemu, mau tahu dan menghargai keunikannya, serta senantiasa berada disisinya apabila sedang dibutuhkan. Kemampuan ini tentu tidak hanya monopoli perempuan.
Peribuan biologis bukanlah suatu dorongan naluriah. Kebutuhan dan/atau keharusan menjadi ibu bagi perempuan dikondisikan secara sosial dan cultural, serta sama sekali tidak ada hubungannya dengan sel telur dan rahim yang dimilikinya. Menjadi ibu bukanlah kodrat, melainkan sebuah konstruksi cultural, suatu mitos dengan kekuatan dominatif tertentu. Oleh karenanya sebagai konsekuensinya selain kedua dimensi peribuan (biologis dan sosial) perlu diberi batas yang tegas dan disosialisasikan terus-menerus, konsep tentang hal itu perlu dibersihkan dari bias gender-nya, yakni sebagai semata-mata hubungan yang didalamnya seorang manusi, baik perempuan atau laki-laki, mengasuh dan memelihara manusia lain. Dengan demikian, mitos patriarchal ini bakal terbongkar makna-makna ideologisnya.
-dee-
Diantara sekian banyak mitos yang selama ini membingkai persepsi kita mengenai realitas, mitos-mitos gender dan identitas seksual mungkin merupakan mitos yang paling ilusif, paling dianggap natural (Solomon, 1988:48). Kita biasa mengasumsikan bahwa identitas seksual merupakan sesuatu yang given, yang tidak ditentukan secara cultural, melainkan secara natural. Mitos-mitos gender pada umumnya berupa perangkat2 ciri psikologis dan sosial yang berstruktur biner dan hierarki, yang disebut oleh Hellene Cixous sebagai pemikiran biner patriarchal (patriarchal binary thought), misalnya laki-laki rasional-perempuan intuitif; laki-laki aktif-perempuan pasif; laki-laki mencari nafkah-perempuan merawat akan dirumah; dan seterusnya.Dalam hal ini tercakup sebuah kepercayaan yang menyatakan bahwa Locus kepuasan hidup laki-laki adalah pekerjaan atau kariernya, sementara kebahagiaan perempuan adalah rumah (-tangga) dan keluarga. Kepercayaan tradisional bahwa “tempat perempuan adalah di dalam rumah”.
Ada sebuah mitos yang tak kalah hegemonisnya adalah bahwa untuk menjadi seorang ibu yang sesungguhnya perempuan harus (mampu) melahirkan anaj, secara ‘normal’ pula. Bila belum pernah melahirkan seperti itu atau tidak mempunyai anak, belum lengkaplah ke-“wanitaan”-nya. Ibu sejati adalah menjadi ibu secara biologis.
Berikit beberapa kerancuan konseptual ketika kita hendak mendefinisikan sosok “ibu”. Pertama, bahwa peran ibu hanya dapat dimainkan oleh jenis kelamin tertentu, yaitu perempuan yang pernah melahirkan. Kerancuan kedua masih berhubungan dengan yang pertaa, terlihat dari anggapan bahwa seorang ibu adalah perempuan yang mengasuh anak-(anak)nya. Definisi ini dikatakan rancu karena buta terhadap perbedaan yang tegas antara ibu biologis (biological mother) dan ibu sosial (social mother).
Ann Oakley (1974; via Tong,1989:84-87), seorang feminis radikal, mencoba menolak dengan berargumentasi bahwa peribuan merupakan sebuah mitos yang disandarkan pada kepercayaan lapis tiga, yaitu bahwa (1) semua perempuan harus menjadi ibu, untuk sekedar mendapatkan harga dirinya sebagai “wanita” atau “ibu sejati”; (2) semua ibu membutuhkan anak, ini dikaitkan dengan “naluri keibuan” yang rupanya dikonstruksi secara cultural dan kecakapan untuk memainkan peran sebagai ibu ternyata harus dipelajari lebih dulu, “Mothers are not born; they are made,”; dan (3) semua anak membutuhkan seorang ibu, pada kenyataannya anak-anak tidak semata-mata membutuhkan ibunya lebih daripada ayahnya. Yang dibutuhkan seorang anak adalah orang (-orang) yang bisa menjalin relasi intim dengannya yaitu mereka yang dapat dipercaya dan bersedia menjadi sandaran, yang mau mengasuh dan merawatnya tanpa jemu, mau tahu dan menghargai keunikannya, serta senantiasa berada disisinya apabila sedang dibutuhkan. Kemampuan ini tentu tidak hanya monopoli perempuan.
Peribuan biologis bukanlah suatu dorongan naluriah. Kebutuhan dan/atau keharusan menjadi ibu bagi perempuan dikondisikan secara sosial dan cultural, serta sama sekali tidak ada hubungannya dengan sel telur dan rahim yang dimilikinya. Menjadi ibu bukanlah kodrat, melainkan sebuah konstruksi cultural, suatu mitos dengan kekuatan dominatif tertentu. Oleh karenanya sebagai konsekuensinya selain kedua dimensi peribuan (biologis dan sosial) perlu diberi batas yang tegas dan disosialisasikan terus-menerus, konsep tentang hal itu perlu dibersihkan dari bias gender-nya, yakni sebagai semata-mata hubungan yang didalamnya seorang manusi, baik perempuan atau laki-laki, mengasuh dan memelihara manusia lain. Dengan demikian, mitos patriarchal ini bakal terbongkar makna-makna ideologisnya.
-dee-
Sunday, May 28, 2006
Duka Sabtu Pagi...
Belum kering air mata yang tercurah karena bencana Tsunami, Gempa, Banjir, Longsor, Tabrakan Kereta Api...
kini Ibu Pertiwi Menangis Kembali...
Sabtu pagi, dimana kita sedang tertidur Lelap.,,
sekali lagi kita ditegur oLeh-Nya
Gempa Tektonik dengan kekuatan 5,9 skala richter mengguncang DIY dan Jawa Tengah...
Dengan korban tewas kurang lebih 3000 jiwa dan ribuan korban luka2..oLeh karena itu MariLah sejenak kita tundukkan kepala dan berDo'a untuk korban2, baik korban tewas ataupun luka2...
dari jauh., seOrang sahabat hanya bisa menyampaikan do'a dan harapan...
sMoga amal ibadahnya diTerima ALLAH SWT dan keluarga yang ditinggalkan diberikan ketabahan
Dan sMoga apa yang terjadi bisa menjadi pelajaran dan bahan renungan bagi kita semua sebagai anak bangsa...
kini Ibu Pertiwi Menangis Kembali...
Sabtu pagi, dimana kita sedang tertidur Lelap.,,
sekali lagi kita ditegur oLeh-Nya
Gempa Tektonik dengan kekuatan 5,9 skala richter mengguncang DIY dan Jawa Tengah...
Dengan korban tewas kurang lebih 3000 jiwa dan ribuan korban luka2..oLeh karena itu MariLah sejenak kita tundukkan kepala dan berDo'a untuk korban2, baik korban tewas ataupun luka2...
dari jauh., seOrang sahabat hanya bisa menyampaikan do'a dan harapan...
sMoga amal ibadahnya diTerima ALLAH SWT dan keluarga yang ditinggalkan diberikan ketabahan
Dan sMoga apa yang terjadi bisa menjadi pelajaran dan bahan renungan bagi kita semua sebagai anak bangsa...
Thursday, May 11, 2006
ThanX tO cLeoPaTra...
“THANX TO CLEOPATRA”
Pas lagi jalan2 di mall, dua ABG sibuk memilah baju. Enggak lama kemudian dikejauhan terlihat segerombolan anak2 SMU bercengkrama. Semuanya cewe. Manis-manis, cantik plus sexy. Apalagi mereka masih muda, lagi seger2nya. Melihat mereka jadi inget Cleopatra, Ratu mesir yang tersohor kecantikannya, yang bikin Julius Caesar klepek2... Dalam imajinasi kita, ya... Cleopatra pasti bertubuh ramping, putih atau kuning langsat kulitnya dan rambut hitam bak mayang terurai, dll.
Tiba2 saja imajinasiku tentang kecantikan Cleopatra pudar bersama dengan terbitnya ingatanku tentang penelitian sejarah yang mengungkap klo ukuran kecantikan Cleopatra jauh dari apa yang kita bayangkan slama ini. Konon, Cleopatra itu ‘ndut, kondisi yang identik dengan kosakata “tidak atau kurang” cantik tuk zaman sekarang. Ya....buyar dong gagasan tipe perempuan cantik ala Cleopatra. Kecewa, jangan dulu ?
Kenyataan Cleopatra itu ‘ndut justru menunjukkan klo ukuran cantik gak bisa disamaratakan. Definisi fisik berbeda dalam tiap ruang dan waktu. Tidak ada ukuran mutlak tentang kelebuhan / kekurangan seseorang secara fisik. Bagi Mesir, ukuran cantik gak mesti ramping, kulit putih, rambut lurus tapi pada apa yang Cleopatra tampilkan. Untuk masyarakat Afrika atau Irian Jaya, berarti rambut kriting, kulit hitam plus bibir penuh. Begitupun di kelompok masyarakat lain, masing2 punya ukuran dan pandangan berbada.
hm.....kehidupan kita menunjukkan aneka warna fisik yang nyata. Ciri2 lahir seperti warna kulit, bentuk tubuh, rambut, muka, dan sebagainya mudah dilihat. Dan hal itu menyebabkan timbulnya pengertian “Ras” sbg cirri golongan manusia tertentu. Dalam rentang sejarah manusia, paham mengenai warna-ciri tubuh manusia ini telah menyebabkan banyak kesedihan dan kesengsaraan. Ini gara2 salah paham besar yang hidup dalam pandangan manusia sebagai bangsa. Salah paham itu mengacaukan antara ciri ras (yang mengkhususkan pada cirri jasmani) dgn cirri rohani. Lebih dari itu, salah paham tadi memberi penilaian tinggi-rendah, baik-buruk, mulia-tidaknya ras-ras itu.
Dari asumsi itu timbul, anggapan bahwa ras Caucasoid / kulit putih lebih kuat dr ras-ras lain, tapi lebih dari itu ada anggapan bahwa ras kulit putih pada dasarnya lebih pandai, lebih maju, lebih luhur. Pendeknya, lebih tinggi rohaninya. Anggapan salah ini timbul bersamaan dengan perkembangan kekuasaan colonial bangsa-bangsa Eropa (yang berkulit putih) terhadap bangsa lain diluar Eropa.
Anggapan mengenai keunggulan jasmani serta rohani ras kulit putih terhadap ras lain didukung oleh berbagai faktor. Diantaranya oleh teori2 ilmu pengetahuan dan sistem ekonomi yang menjadikan tubuh sebagai komoditas industri, makanya masyarakat memfungsikan tubuhnya sebagai industri yang menghasilkan pundi2 kekayaan. Tubuh menjadi ikon sesembahan (Fetisisme).
Contoh, perkembangan teori yang disampaikan oleh A.De Gobineau dlm bukunya Essai Sur I’Lnegalite des Races Humaines (1853-1855) yang menyebutkan bahwa ras paling murni dan unggul didunia adalah Ras Arya. Di Jerman, anggapan ini diadopsi Hitler dengan Nazinya. Di Serbia, diadopsi Milosevic untuk memusnahkan jutaan manusi non-serbia di Balkan. Betapa sengsaranya keadaan yang ditimbulkan oleh gejala diskriminasi ras.
Nah, Anggapan salah yang terjadi pada ranah ‘Ras’, turun juga ke level individu. Banyak orang merasa karena dia secara fisik lebih dari orang lain. Maka otomatis dia merasa lebih dalam hal lainnya. Lebih hebat atau lebih maju. Tak jarang kondisi ini mendorong terjadinya sikap meremehkan orang yang kebetulan kurang secara fisik.
Jakarta, 20 April 2006
Pas lagi jalan2 di mall, dua ABG sibuk memilah baju. Enggak lama kemudian dikejauhan terlihat segerombolan anak2 SMU bercengkrama. Semuanya cewe. Manis-manis, cantik plus sexy. Apalagi mereka masih muda, lagi seger2nya. Melihat mereka jadi inget Cleopatra, Ratu mesir yang tersohor kecantikannya, yang bikin Julius Caesar klepek2... Dalam imajinasi kita, ya... Cleopatra pasti bertubuh ramping, putih atau kuning langsat kulitnya dan rambut hitam bak mayang terurai, dll.
Tiba2 saja imajinasiku tentang kecantikan Cleopatra pudar bersama dengan terbitnya ingatanku tentang penelitian sejarah yang mengungkap klo ukuran kecantikan Cleopatra jauh dari apa yang kita bayangkan slama ini. Konon, Cleopatra itu ‘ndut, kondisi yang identik dengan kosakata “tidak atau kurang” cantik tuk zaman sekarang. Ya....buyar dong gagasan tipe perempuan cantik ala Cleopatra. Kecewa, jangan dulu ?
Kenyataan Cleopatra itu ‘ndut justru menunjukkan klo ukuran cantik gak bisa disamaratakan. Definisi fisik berbeda dalam tiap ruang dan waktu. Tidak ada ukuran mutlak tentang kelebuhan / kekurangan seseorang secara fisik. Bagi Mesir, ukuran cantik gak mesti ramping, kulit putih, rambut lurus tapi pada apa yang Cleopatra tampilkan. Untuk masyarakat Afrika atau Irian Jaya, berarti rambut kriting, kulit hitam plus bibir penuh. Begitupun di kelompok masyarakat lain, masing2 punya ukuran dan pandangan berbada.
hm.....kehidupan kita menunjukkan aneka warna fisik yang nyata. Ciri2 lahir seperti warna kulit, bentuk tubuh, rambut, muka, dan sebagainya mudah dilihat. Dan hal itu menyebabkan timbulnya pengertian “Ras” sbg cirri golongan manusia tertentu. Dalam rentang sejarah manusia, paham mengenai warna-ciri tubuh manusia ini telah menyebabkan banyak kesedihan dan kesengsaraan. Ini gara2 salah paham besar yang hidup dalam pandangan manusia sebagai bangsa. Salah paham itu mengacaukan antara ciri ras (yang mengkhususkan pada cirri jasmani) dgn cirri rohani. Lebih dari itu, salah paham tadi memberi penilaian tinggi-rendah, baik-buruk, mulia-tidaknya ras-ras itu.
Dari asumsi itu timbul, anggapan bahwa ras Caucasoid / kulit putih lebih kuat dr ras-ras lain, tapi lebih dari itu ada anggapan bahwa ras kulit putih pada dasarnya lebih pandai, lebih maju, lebih luhur. Pendeknya, lebih tinggi rohaninya. Anggapan salah ini timbul bersamaan dengan perkembangan kekuasaan colonial bangsa-bangsa Eropa (yang berkulit putih) terhadap bangsa lain diluar Eropa.
Anggapan mengenai keunggulan jasmani serta rohani ras kulit putih terhadap ras lain didukung oleh berbagai faktor. Diantaranya oleh teori2 ilmu pengetahuan dan sistem ekonomi yang menjadikan tubuh sebagai komoditas industri, makanya masyarakat memfungsikan tubuhnya sebagai industri yang menghasilkan pundi2 kekayaan. Tubuh menjadi ikon sesembahan (Fetisisme).
Contoh, perkembangan teori yang disampaikan oleh A.De Gobineau dlm bukunya Essai Sur I’Lnegalite des Races Humaines (1853-1855) yang menyebutkan bahwa ras paling murni dan unggul didunia adalah Ras Arya. Di Jerman, anggapan ini diadopsi Hitler dengan Nazinya. Di Serbia, diadopsi Milosevic untuk memusnahkan jutaan manusi non-serbia di Balkan. Betapa sengsaranya keadaan yang ditimbulkan oleh gejala diskriminasi ras.
Nah, Anggapan salah yang terjadi pada ranah ‘Ras’, turun juga ke level individu. Banyak orang merasa karena dia secara fisik lebih dari orang lain. Maka otomatis dia merasa lebih dalam hal lainnya. Lebih hebat atau lebih maju. Tak jarang kondisi ini mendorong terjadinya sikap meremehkan orang yang kebetulan kurang secara fisik.
Jakarta, 20 April 2006
Monday, April 17, 2006
JobLess
ternyata cari kerja tuh susah banget...
dah, hampir 2 bulan belakangan ini gw nganggur...
apply seh terus...tapi blom ada respon...
gila...
pusing banget..
kerjaan gw sekarang dirumah aj...
bosen jyga seh...
trus gak enak lagi ama BonYok...
gak ada kerjaan..
maunya gw seh, nYokap udahan kerjanya...
kasian nyokap kerja, banTing tulang...
pEngen seh ngeRinganin beban BonYok, tapi gimana caranya...
kerja aja belum...
pusing gw, kLo mikirin hidup ini....
bisa gak ya...gw ngebahagiain bonyok...
duh.pusing neh....
ada yang punya solusi buat gw ato ada pekerjaan buat gw...
kasi tau donk...
dah, hampir 2 bulan belakangan ini gw nganggur...
apply seh terus...tapi blom ada respon...
gila...
pusing banget..
kerjaan gw sekarang dirumah aj...
bosen jyga seh...
trus gak enak lagi ama BonYok...
gak ada kerjaan..
maunya gw seh, nYokap udahan kerjanya...
kasian nyokap kerja, banTing tulang...
pEngen seh ngeRinganin beban BonYok, tapi gimana caranya...
kerja aja belum...
pusing gw, kLo mikirin hidup ini....
bisa gak ya...gw ngebahagiain bonyok...
duh.pusing neh....
ada yang punya solusi buat gw ato ada pekerjaan buat gw...
kasi tau donk...
Tuesday, January 10, 2006
Dara, Gadis, Wanita, Perempuan, Ibu, Tante, Nenek, Eyang Putri...
Berbagi sebutan untuk seorang yang tidak berjenis kelami laki-laki. Mungkin lebih banyak lagi sebutan untuknya. Buat aku pribadi, aku lebuh senang jika disebut sebagai Perempuan dibanding Wanita karena berdasarkan bahasa Sansekerta Wanita adalah pemuas nafu seks sedangkan Perempuan adalah bagai air surga yang menyejukkan.
Dipikir-pikir menjadi seorang perempuan itu sangat berat dan penuh perjuangan. Ketika berajak remaja mengalami menstruasi yang diiring dengan rasa sakit dan kram perut, memasuki fase berkeluarga mengurus suami, hamil membawa bayi kemanapun ia pergi selama 9 bulan belum lagi melahirkan yang harus dihadapkan dalam situasi hidup dan mati, belum lagi masa menyusui yang membuat putingnya sakit, lalu ketika memasuki masa tua pun tak luput dari rasa sakit. Masa monopose yang menyakitkan dan perasaan yang rendah diri karena merasa sudah tidak bisa melayani suami karena hormon estrogennya sudah tidak ada dan gairah seksnya sudah berkurang. Alibi seperti inilah yang digunakan suami sebagai pembenarannya untuk beristri lagi / poligami.
Belum lagi sterotipe yang ada dimasyarakat bahwa perempuan cantik itu kulitnya putih, langsing, rambutnya hitam, panjang, & lurus, berwajah indo, dan lain sebagainya. Sterotipe seperti inilah yang membuat kaum perempuan rela menyakiti dirinya, berlapar-lapar, meminum berbaai obat pelangsing, kepusat kebugaram bahkan sedot lemak. Berlomba-lomba membeli produk pemutih kulit dan disertai iklan-iklan yang menyesatkan. Tiap bulan kesalon untuk merawat rambutnya. Belum lagi membeli make up untuk menutupi kekurangan diwajahnya. Pakaian yang mahal dan seksi, untuk menambah kesempurnaan penampilan menggunakan High Heel .
Entah berapa ratus bahkan juta rupiah yang harus dikeluarkan untuk memenuhi hasrat dan status sosial itu.... Lalu bagimana dengan perempuan yang tidak termasuk dalam sterotipe itu dan memilih untuk tidak berubah. Apakah perempuan-perempuan seperti itu harus tertindas dan tidak popular. dan kapankah sterotipe itu berubah. Entah siapa yang bisa menjawab pertanyaan ini?
Bicara tentang Ibu... Saya setuju dengan ungkapan “Surga ditelapak kaki Ibu”, bagaimana tidak selama 9 bulan ia menjaga kita dalam kandungannya, melahirkan, setelah lahir ia dengan ikhlas merawat kita, terjaga ditengah malam, menyusui kita, bahkan sampai kita dewasa ia tetap merawat kita. Dan masih banyak lagi yang harus dialami seorang Ibu... sungguh mulia menjadi seorang Ibu...... Tak salah jika Nabi Muhammad SAW ketika ditanya seorang sahabat, siapa yang harus dihormati terlebih dahulu Umi atau Abi.. dengan lantang ia menjawab Umi, Umi, Umi, & terakhir Abi.
Dulu saya pernah merasa menyesal dilahirkan sebagai seorang perempuan tapi kini saya justru jauh lebih bangga menjadi perempuan dan menghargai seorang perempuan. Karena perempuan itu adalah makhluk yang indah dan kuat, sekuat batu karang dilautan yang tegar menghadapi hantaman ombak.. Bahkan perempuan jauh lebih rasional dibandingkan laki-laki...
“HIDUP PEREMPUAN”
Dipikir-pikir menjadi seorang perempuan itu sangat berat dan penuh perjuangan. Ketika berajak remaja mengalami menstruasi yang diiring dengan rasa sakit dan kram perut, memasuki fase berkeluarga mengurus suami, hamil membawa bayi kemanapun ia pergi selama 9 bulan belum lagi melahirkan yang harus dihadapkan dalam situasi hidup dan mati, belum lagi masa menyusui yang membuat putingnya sakit, lalu ketika memasuki masa tua pun tak luput dari rasa sakit. Masa monopose yang menyakitkan dan perasaan yang rendah diri karena merasa sudah tidak bisa melayani suami karena hormon estrogennya sudah tidak ada dan gairah seksnya sudah berkurang. Alibi seperti inilah yang digunakan suami sebagai pembenarannya untuk beristri lagi / poligami.
Belum lagi sterotipe yang ada dimasyarakat bahwa perempuan cantik itu kulitnya putih, langsing, rambutnya hitam, panjang, & lurus, berwajah indo, dan lain sebagainya. Sterotipe seperti inilah yang membuat kaum perempuan rela menyakiti dirinya, berlapar-lapar, meminum berbaai obat pelangsing, kepusat kebugaram bahkan sedot lemak. Berlomba-lomba membeli produk pemutih kulit dan disertai iklan-iklan yang menyesatkan. Tiap bulan kesalon untuk merawat rambutnya. Belum lagi membeli make up untuk menutupi kekurangan diwajahnya. Pakaian yang mahal dan seksi, untuk menambah kesempurnaan penampilan menggunakan High Heel .
Entah berapa ratus bahkan juta rupiah yang harus dikeluarkan untuk memenuhi hasrat dan status sosial itu.... Lalu bagimana dengan perempuan yang tidak termasuk dalam sterotipe itu dan memilih untuk tidak berubah. Apakah perempuan-perempuan seperti itu harus tertindas dan tidak popular. dan kapankah sterotipe itu berubah. Entah siapa yang bisa menjawab pertanyaan ini?
Bicara tentang Ibu... Saya setuju dengan ungkapan “Surga ditelapak kaki Ibu”, bagaimana tidak selama 9 bulan ia menjaga kita dalam kandungannya, melahirkan, setelah lahir ia dengan ikhlas merawat kita, terjaga ditengah malam, menyusui kita, bahkan sampai kita dewasa ia tetap merawat kita. Dan masih banyak lagi yang harus dialami seorang Ibu... sungguh mulia menjadi seorang Ibu...... Tak salah jika Nabi Muhammad SAW ketika ditanya seorang sahabat, siapa yang harus dihormati terlebih dahulu Umi atau Abi.. dengan lantang ia menjawab Umi, Umi, Umi, & terakhir Abi.
Dulu saya pernah merasa menyesal dilahirkan sebagai seorang perempuan tapi kini saya justru jauh lebih bangga menjadi perempuan dan menghargai seorang perempuan. Karena perempuan itu adalah makhluk yang indah dan kuat, sekuat batu karang dilautan yang tegar menghadapi hantaman ombak.. Bahkan perempuan jauh lebih rasional dibandingkan laki-laki...
“HIDUP PEREMPUAN”
PerBudaKan
Masih ingat cerita tentang perbudakan ?
Sebuah tragedyi hidup yang pernah menimpa saudara kita hanya karena perbedaan bentuk tubuh. Hanya karena beda warna kulit dan bentuk tubuh, mereka harus kehilangan hak mereka untuk hidup selayaknya. Mereka harus kerja keras setiap hari ditambah dengan cambukan yang menyakiti punggung dan tangan tanpa upah, sekarang meskipun perbudakan sudah dihapuskan bukan berarti diskriminasi karena perbedaan tubuh hilang begitu saja.
Dulu diskriminasi bentuk tubuh terjadi secara komunal berdasarkan ras hingga lahir perbudakan, sekarang diskriminasi terjadi dalam skala yang lebih sempit tapi cukup mewabah dan itu tanpa kita sadari. Coba lihat sekitar kita atau bahkan kita sendiri yang memperlakukan teman, saudara, atau tetangga yang tubuhnya agak aneh. Aneh karena warna kulitnya, cacat bawaan, dll, seolah-olah mengizinkan kita untuk berbuat apapun pada mereka. Lebih aneh lagi, kita menganggap perlakuan semena-mena itu wajar dan membiarkan orang lain menderita hanya karena ketidaklaziman bentuk tubuh yang mereka miliki.
Ada semacam diskriminasi bentuk tubuh antar personal terjadi secara terselubung yang mengakibatkan seseorang itu terasing atau dihargai secara berlebihan. Seseorang hanya dinilai berdasarkan bentuk tubuhnya saja, hal ini diperparah dengan sistem kapitalisme dan individualisme yang ditangkap oleh banyak teman kita sebatas permukaannya saja melalui budaya hedonis (senag-senang/hura-hura). Akibatnya banyak teman kita yang malah sibuk mem[persolek tubuh juga berdandan, bahkan cenderung mengeksploitasi tubuh mereka hanya untuk sekedar mendapatkan sedikit decak kagum dari orang lain. Tak jauh dari situ, perilaku seperti itu mudah dijumpai disekolah atau dikampus kita. Sekolah atau kampus hanya jadi pelengkap status sosial dan ajang tempat pamer tubuh juga dandanan. Banyak teman kita hanya mau bergaul dengan orang yang memiliki keunggulan bentuk tubuh saja dan cenderung mencemooh orang yang rada aneh bentuk tubuhnya tanpa melihat keunggulan dari mereka seperti memiliki wawasan yang luas, suara yang bagus ataupun keahlian yang lain.
Diskriminasi memang tidak pernah mati tapi selama kita hidup, kita tidak boleh diam. Diskriminasi tubuh secara komunal memang mudah dilihat and itu sudah dihapuskan. Sekarang ini kita menghadapi diskriminasi yang terjadi antar personal yang boleh jadi menghinggapi kita dalam memperlakukan teman atau diri kita sendiri. Jika dulu Karl Marx membagi kasta menusia berdasarkan posisi manusia dalam sistem produksi, kemudian Adolf Hitler dengan Nazinya merasa berhak menyerbu bangsa lain karena merasa bangsanya adalah bangsa yang lebih unggul. Akankah kita tega menyakiti teman kita atau diri kita hanya karena perbedaan rambut, bentuk tubuh yang tidak ideal, bentuk wajah yang aneh karena cacat bawaan atau cacat kecelakaan ?
Sebuah tragedyi hidup yang pernah menimpa saudara kita hanya karena perbedaan bentuk tubuh. Hanya karena beda warna kulit dan bentuk tubuh, mereka harus kehilangan hak mereka untuk hidup selayaknya. Mereka harus kerja keras setiap hari ditambah dengan cambukan yang menyakiti punggung dan tangan tanpa upah, sekarang meskipun perbudakan sudah dihapuskan bukan berarti diskriminasi karena perbedaan tubuh hilang begitu saja.
Dulu diskriminasi bentuk tubuh terjadi secara komunal berdasarkan ras hingga lahir perbudakan, sekarang diskriminasi terjadi dalam skala yang lebih sempit tapi cukup mewabah dan itu tanpa kita sadari. Coba lihat sekitar kita atau bahkan kita sendiri yang memperlakukan teman, saudara, atau tetangga yang tubuhnya agak aneh. Aneh karena warna kulitnya, cacat bawaan, dll, seolah-olah mengizinkan kita untuk berbuat apapun pada mereka. Lebih aneh lagi, kita menganggap perlakuan semena-mena itu wajar dan membiarkan orang lain menderita hanya karena ketidaklaziman bentuk tubuh yang mereka miliki.
Ada semacam diskriminasi bentuk tubuh antar personal terjadi secara terselubung yang mengakibatkan seseorang itu terasing atau dihargai secara berlebihan. Seseorang hanya dinilai berdasarkan bentuk tubuhnya saja, hal ini diperparah dengan sistem kapitalisme dan individualisme yang ditangkap oleh banyak teman kita sebatas permukaannya saja melalui budaya hedonis (senag-senang/hura-hura). Akibatnya banyak teman kita yang malah sibuk mem[persolek tubuh juga berdandan, bahkan cenderung mengeksploitasi tubuh mereka hanya untuk sekedar mendapatkan sedikit decak kagum dari orang lain. Tak jauh dari situ, perilaku seperti itu mudah dijumpai disekolah atau dikampus kita. Sekolah atau kampus hanya jadi pelengkap status sosial dan ajang tempat pamer tubuh juga dandanan. Banyak teman kita hanya mau bergaul dengan orang yang memiliki keunggulan bentuk tubuh saja dan cenderung mencemooh orang yang rada aneh bentuk tubuhnya tanpa melihat keunggulan dari mereka seperti memiliki wawasan yang luas, suara yang bagus ataupun keahlian yang lain.
Diskriminasi memang tidak pernah mati tapi selama kita hidup, kita tidak boleh diam. Diskriminasi tubuh secara komunal memang mudah dilihat and itu sudah dihapuskan. Sekarang ini kita menghadapi diskriminasi yang terjadi antar personal yang boleh jadi menghinggapi kita dalam memperlakukan teman atau diri kita sendiri. Jika dulu Karl Marx membagi kasta menusia berdasarkan posisi manusia dalam sistem produksi, kemudian Adolf Hitler dengan Nazinya merasa berhak menyerbu bangsa lain karena merasa bangsanya adalah bangsa yang lebih unggul. Akankah kita tega menyakiti teman kita atau diri kita hanya karena perbedaan rambut, bentuk tubuh yang tidak ideal, bentuk wajah yang aneh karena cacat bawaan atau cacat kecelakaan ?
Pilihan Agung
Rintih terpendam seorang perempuan
Ditikam sengit perkosaan di ruang sempit
berdinding poster dan beberapa serakan botol bir
Terkenang lantai yang pesing
Tempat ronta, isak, dan desah ganas penggagahan
Diakhiri muncratan amis mani
dari ujung kepala belut licin
Membuatnya lupa akan segumpal nyeri dari paha
dan darah yang menyeruak dari selangkangnya
Punggungnya masih lembab dan amis
Bagai sisa hangat senggama
Dia mulai paham, tiap masalah
Tak harus dimengerti semua orang
dan membuat dia ikhlas menjadi gila
dan dipasung sebagai pilihan terakhir
yang AGUNG....
Ditikam sengit perkosaan di ruang sempit
berdinding poster dan beberapa serakan botol bir
Terkenang lantai yang pesing
Tempat ronta, isak, dan desah ganas penggagahan
Diakhiri muncratan amis mani
dari ujung kepala belut licin
Membuatnya lupa akan segumpal nyeri dari paha
dan darah yang menyeruak dari selangkangnya
Punggungnya masih lembab dan amis
Bagai sisa hangat senggama
Dia mulai paham, tiap masalah
Tak harus dimengerti semua orang
dan membuat dia ikhlas menjadi gila
dan dipasung sebagai pilihan terakhir
yang AGUNG....
Friday, December 23, 2005
LuLuZzzzzzzz
wah.. sEnangNya hari ini....
sTatus gwe skarang bErUbah...
dR sEorang Mahasiswa dan aKtivis kaMPus mEnjadi sEorang pEngan6guran...
sEdih juga harus ninggalin temen2 dan aLmaMaTer tErcinta..
dan gwe juga gak ngErTi habis ini mo apaLagi...
apa gwe biSa mEngHadapi tantangan di Depan...
apaLagi nGeliat tingkat pengangguran di Indonesia
huh... mEnakJubkan...
tau dOnk tingkat Pengangguran diIndonesia ini... tRus tingkat PHK juga gEde
biasa eFek dRi naikNya harga BBM sEmua kEna iMbas...
bTw... gak pErnah kBayang akhirNya gWe biSa nYeLesain kULiah...
gWe pikir masi lama bahkan gak sELesai2.... biz ngEbayangin bikin sKripsi dan sidangNya iTu loh...
bikin mULes dLuan...
sETelah pErjuangan yang cukup lama... 6 bULan ( 1 sEmester ), 3 bULan lagi lahir :-), akHirnya jadi juga jadi "PenGaCaRa". mO jadi pEngang6uran aja sUsah banget...
bUTuh perJuangan yang kEras, apalagi gWe bUkan orang yang oTakNya bRiLian.. agak LemOt giThu...
jadi dEh... LuLusNya Lama 4 tahun sEdangKan tEmen2 gWe 3 1/2 tahun...
lamaKan.... yA sUdahLah... eMang bEgiTu kLi jaLanNya...
aSal jGn lama aja dapet kErjaNya...
gWe pErCaya kOk, gak sLamaNya bRiLian itu mEnenTukan...
dan gWe pERcaya Tuhan iTu adiL..
gWe diBuat lama LulusNya mungkin ada rencana lain yang udah disiapin Tuhan buaT gWe...
Amin....
sTatus gwe skarang bErUbah...
dR sEorang Mahasiswa dan aKtivis kaMPus mEnjadi sEorang pEngan6guran...
sEdih juga harus ninggalin temen2 dan aLmaMaTer tErcinta..
dan gwe juga gak ngErTi habis ini mo apaLagi...
apa gwe biSa mEngHadapi tantangan di Depan...
apaLagi nGeliat tingkat pengangguran di Indonesia
huh... mEnakJubkan...
tau dOnk tingkat Pengangguran diIndonesia ini... tRus tingkat PHK juga gEde
biasa eFek dRi naikNya harga BBM sEmua kEna iMbas...
bTw... gak pErnah kBayang akhirNya gWe biSa nYeLesain kULiah...
gWe pikir masi lama bahkan gak sELesai2.... biz ngEbayangin bikin sKripsi dan sidangNya iTu loh...
bikin mULes dLuan...
sETelah pErjuangan yang cukup lama... 6 bULan ( 1 sEmester ), 3 bULan lagi lahir :-), akHirnya jadi juga jadi "PenGaCaRa". mO jadi pEngang6uran aja sUsah banget...
bUTuh perJuangan yang kEras, apalagi gWe bUkan orang yang oTakNya bRiLian.. agak LemOt giThu...
jadi dEh... LuLusNya Lama 4 tahun sEdangKan tEmen2 gWe 3 1/2 tahun...
lamaKan.... yA sUdahLah... eMang bEgiTu kLi jaLanNya...
aSal jGn lama aja dapet kErjaNya...
gWe pErCaya kOk, gak sLamaNya bRiLian itu mEnenTukan...
dan gWe pERcaya Tuhan iTu adiL..
gWe diBuat lama LulusNya mungkin ada rencana lain yang udah disiapin Tuhan buaT gWe...
Amin....
Tuesday, September 27, 2005
Bukan Cinta SeJenis
Aku bukan Pencinta seJeNis..............
dan Aku buKan LesBian..............
Aku hanYa cinTa keHidupan...............
kEHidupan y6 aku tAk tahu bGaimana aWaLnya dan b9aimana aKhirNya
BoLeh dBilang jUsTru aku ciNta pada dRiku sEndiRi
Melebihi apapun
aku tidak mEnYukai Lelaki..
tapi bUkan bErArti aku cInTa pErempuan...
ApaPun kaTa oRang, aku tAk pErnah pErduli
bEgiNiLah diRiku...
KuTerima aPa aDaNya
dan Aku buKan LesBian..............
Aku hanYa cinTa keHidupan...............
kEHidupan y6 aku tAk tahu bGaimana aWaLnya dan b9aimana aKhirNya
BoLeh dBilang jUsTru aku ciNta pada dRiku sEndiRi
Melebihi apapun
aku tidak mEnYukai Lelaki..
tapi bUkan bErArti aku cInTa pErempuan...
ApaPun kaTa oRang, aku tAk pErnah pErduli
bEgiNiLah diRiku...
KuTerima aPa aDaNya
Subscribe to:
Posts (Atom)