Tuesday, January 10, 2006

PerBudaKan

Masih ingat cerita tentang perbudakan ?
Sebuah tragedyi hidup yang pernah menimpa saudara kita hanya karena perbedaan bentuk tubuh. Hanya karena beda warna kulit dan bentuk tubuh, mereka harus kehilangan hak mereka untuk hidup selayaknya. Mereka harus kerja keras setiap hari ditambah dengan cambukan yang menyakiti punggung dan tangan tanpa upah, sekarang meskipun perbudakan sudah dihapuskan bukan berarti diskriminasi karena perbedaan tubuh hilang begitu saja.
Dulu diskriminasi bentuk tubuh terjadi secara komunal berdasarkan ras hingga lahir perbudakan, sekarang diskriminasi terjadi dalam skala yang lebih sempit tapi cukup mewabah dan itu tanpa kita sadari. Coba lihat sekitar kita atau bahkan kita sendiri yang memperlakukan teman, saudara, atau tetangga yang tubuhnya agak aneh. Aneh karena warna kulitnya, cacat bawaan, dll, seolah-olah mengizinkan kita untuk berbuat apapun pada mereka. Lebih aneh lagi, kita menganggap perlakuan semena-mena itu wajar dan membiarkan orang lain menderita hanya karena ketidaklaziman bentuk tubuh yang mereka miliki.
Ada semacam diskriminasi bentuk tubuh antar personal terjadi secara terselubung yang mengakibatkan seseorang itu terasing atau dihargai secara berlebihan. Seseorang hanya dinilai berdasarkan bentuk tubuhnya saja, hal ini diperparah dengan sistem kapitalisme dan individualisme yang ditangkap oleh banyak teman kita sebatas permukaannya saja melalui budaya hedonis (senag-senang/hura-hura). Akibatnya banyak teman kita yang malah sibuk mem[persolek tubuh juga berdandan, bahkan cenderung mengeksploitasi tubuh mereka hanya untuk sekedar mendapatkan sedikit decak kagum dari orang lain. Tak jauh dari situ, perilaku seperti itu mudah dijumpai disekolah atau dikampus kita. Sekolah atau kampus hanya jadi pelengkap status sosial dan ajang tempat pamer tubuh juga dandanan. Banyak teman kita hanya mau bergaul dengan orang yang memiliki keunggulan bentuk tubuh saja dan cenderung mencemooh orang yang rada aneh bentuk tubuhnya tanpa melihat keunggulan dari mereka seperti memiliki wawasan yang luas, suara yang bagus ataupun keahlian yang lain.
Diskriminasi memang tidak pernah mati tapi selama kita hidup, kita tidak boleh diam. Diskriminasi tubuh secara komunal memang mudah dilihat and itu sudah dihapuskan. Sekarang ini kita menghadapi diskriminasi yang terjadi antar personal yang boleh jadi menghinggapi kita dalam memperlakukan teman atau diri kita sendiri. Jika dulu Karl Marx membagi kasta menusia berdasarkan posisi manusia dalam sistem produksi, kemudian Adolf Hitler dengan Nazinya merasa berhak menyerbu bangsa lain karena merasa bangsanya adalah bangsa yang lebih unggul. Akankah kita tega menyakiti teman kita atau diri kita hanya karena perbedaan rambut, bentuk tubuh yang tidak ideal, bentuk wajah yang aneh karena cacat bawaan atau cacat kecelakaan ?

2 comments:

Mala FDM said...

Wah, tulisannya bagus sekali..memang loe itu cocok banget nulis deh, calon wartawan sih, jadi yah seperti agak ilmiah, tapi bagus kok gw suka sekali...Ayo rajin nulis yah...

Perbudakan akan semakin ramai yah nantinya di dunia, khususnya di Indo? klo pemerintahan kita akan seperti begini truss...

camarmerah said...

"Jika dulu Karl Marx membagi kasta menusia berdasarkan posisi manusia dalam sistem produksi, kemudian Adolf Hitler dengan Nazinya merasa berhak menyerbu bangsa lain karena merasa bangsanya adalah bangsa yang lebih unggul."

Apakah maksud kamu Marx melakukan 'diskriminasi' seperti Hitler??


camarmerah
http://camarmerah.singcat.com