“MEMBONGKAR MITOS IBU”
Diantara sekian banyak mitos yang selama ini membingkai persepsi kita mengenai realitas, mitos-mitos gender dan identitas seksual mungkin merupakan mitos yang paling ilusif, paling dianggap natural (Solomon, 1988:48). Kita biasa mengasumsikan bahwa identitas seksual merupakan sesuatu yang given, yang tidak ditentukan secara cultural, melainkan secara natural. Mitos-mitos gender pada umumnya berupa perangkat2 ciri psikologis dan sosial yang berstruktur biner dan hierarki, yang disebut oleh Hellene Cixous sebagai pemikiran biner patriarchal (patriarchal binary thought), misalnya laki-laki rasional-perempuan intuitif; laki-laki aktif-perempuan pasif; laki-laki mencari nafkah-perempuan merawat akan dirumah; dan seterusnya.Dalam hal ini tercakup sebuah kepercayaan yang menyatakan bahwa Locus kepuasan hidup laki-laki adalah pekerjaan atau kariernya, sementara kebahagiaan perempuan adalah rumah (-tangga) dan keluarga. Kepercayaan tradisional bahwa “tempat perempuan adalah di dalam rumah”.
Ada sebuah mitos yang tak kalah hegemonisnya adalah bahwa untuk menjadi seorang ibu yang sesungguhnya perempuan harus (mampu) melahirkan anaj, secara ‘normal’ pula. Bila belum pernah melahirkan seperti itu atau tidak mempunyai anak, belum lengkaplah ke-“wanitaan”-nya. Ibu sejati adalah menjadi ibu secara biologis.
Berikit beberapa kerancuan konseptual ketika kita hendak mendefinisikan sosok “ibu”. Pertama, bahwa peran ibu hanya dapat dimainkan oleh jenis kelamin tertentu, yaitu perempuan yang pernah melahirkan. Kerancuan kedua masih berhubungan dengan yang pertaa, terlihat dari anggapan bahwa seorang ibu adalah perempuan yang mengasuh anak-(anak)nya. Definisi ini dikatakan rancu karena buta terhadap perbedaan yang tegas antara ibu biologis (biological mother) dan ibu sosial (social mother).
Ann Oakley (1974; via Tong,1989:84-87), seorang feminis radikal, mencoba menolak dengan berargumentasi bahwa peribuan merupakan sebuah mitos yang disandarkan pada kepercayaan lapis tiga, yaitu bahwa (1) semua perempuan harus menjadi ibu, untuk sekedar mendapatkan harga dirinya sebagai “wanita” atau “ibu sejati”; (2) semua ibu membutuhkan anak, ini dikaitkan dengan “naluri keibuan” yang rupanya dikonstruksi secara cultural dan kecakapan untuk memainkan peran sebagai ibu ternyata harus dipelajari lebih dulu, “Mothers are not born; they are made,”; dan (3) semua anak membutuhkan seorang ibu, pada kenyataannya anak-anak tidak semata-mata membutuhkan ibunya lebih daripada ayahnya. Yang dibutuhkan seorang anak adalah orang (-orang) yang bisa menjalin relasi intim dengannya yaitu mereka yang dapat dipercaya dan bersedia menjadi sandaran, yang mau mengasuh dan merawatnya tanpa jemu, mau tahu dan menghargai keunikannya, serta senantiasa berada disisinya apabila sedang dibutuhkan. Kemampuan ini tentu tidak hanya monopoli perempuan.
Peribuan biologis bukanlah suatu dorongan naluriah. Kebutuhan dan/atau keharusan menjadi ibu bagi perempuan dikondisikan secara sosial dan cultural, serta sama sekali tidak ada hubungannya dengan sel telur dan rahim yang dimilikinya. Menjadi ibu bukanlah kodrat, melainkan sebuah konstruksi cultural, suatu mitos dengan kekuatan dominatif tertentu. Oleh karenanya sebagai konsekuensinya selain kedua dimensi peribuan (biologis dan sosial) perlu diberi batas yang tegas dan disosialisasikan terus-menerus, konsep tentang hal itu perlu dibersihkan dari bias gender-nya, yakni sebagai semata-mata hubungan yang didalamnya seorang manusi, baik perempuan atau laki-laki, mengasuh dan memelihara manusia lain. Dengan demikian, mitos patriarchal ini bakal terbongkar makna-makna ideologisnya.
-dee-
No comments:
Post a Comment