Selama ini yang kita ketahui bahwa pemerkosaan selalu diidentikkan denagn tindakan kekerasan/kekejaman (violence), dibawah tekanan/ancaman (threat), dan pelakunya dikategorikan sebagai seorang penjahat (kriminal) ditambah lagi denagn film-film yang makin menguatkan penggambaran itu. Seorang pemerkosa selalu ditampilkan dengan symbol-simbol lawas. Berwajah sangar, berjambang lebat, bertubuh hitam kekar, dan maniak seks. Memang penggambaran tersebut tidak semuanya salah tetapi tidak sedikit juga dari gambaran tadi yang sangat keliru, bahkan menyesatkan.
Seorang pemerkosa bisa jadi adalah seorang laki-laki halus berkulit putih, lemah lembut, berwajah tampan tanpa kumis dan jambang, serta tidak kekar. Kesamaannya adalah bahwa para pemerkosa biasanya para maniak seks, dan juga punya kelainan jiwa. Misalnya, hanya dapat menikmati seks dalam keadaan tertekan, darurat, dll. Bahkan gaya-gaya aneh seperti 69, memukuli pasangannya terlebih dahulu hingga berdarah-darah, dan masih banyak lagi lahir dari cluster aliran ini. Jelas kelainan dan kekerasan.
Namun saat ini yang tidak kita sadari dan sedang berkembang adalah pemerkosaan dalam bentuk lain yang dikemas dalam bingkai cinta, dalam sebuah bangunan ikatan pranikah yang kita kenal dengan nama “pacaran”.
Pacaran adalah sebuah ikatan yang dibangun atas komitmen dan kepercayaan yang dipicu oleh rasa cinta dan sayang kepada pasangannya, baik pra-nikah atau pascanikah. Sebelumnya melangkah lebih jauh mari kita pahami dan dalami lebih dalam tentang dua istilah cinta dan sayang dulu. Dua kata inilah yang mempertautkan seseorang dalam ikatan pacaran.
Cinta dan sayang memiliki derivasi aplikasi sikap yang berbeda. Sayang biasanya lebih steril dari pengaruh nafsu syahwat, sedangkan cinta (kepada lawan jenis) selalu diidentikkan dengan syahwat tadi. Mungkin pendapat saya terdengar subyektif tapi mari kita lihat dengan jernih dan cermat. Saya akan mengajukan pertanyaan dan tolong dijawab dengan jujur dengan hati, tak usah dengan kata-kata. Apakah kita dapat mencintai pasangan kita, jika pasangan kita itu tidak mempunyai kelebihan dalam segi apapun, misal ketampanan, kecantikan, kecerdasan, dan materi? Mungkinkah kemudian cinta yang kita rasakan itu lahir dari hati yang paling dalam (deep inside my heart) ?
Untuk pertanyaan yang terakhir, kok saya berfikir mungkin saja terjadi namun tidak mudah meraihnya. Ada fase dan proses panjang yang harus dijalani untuk meraih kualitas cinta yang sedemikian dasyatnya. Puncak dari definisi cinta adalah rasa (feel). Kita yang pernah jatuh cinta pasti setuju bahwa benar, betapa nikmatnya getar-getar yang dipetik oleh dawai hati kita. Ada rasa rindu, selalu ingin berjumpa, takut kehilangan, gemetar jika disebutkan nama orang yang kita cintai dan masih banyak lagi. Jadi jatuh cinta itu sama dengan pengendapan rasa, oleh karena itu kita butuh manajemen rasa yang baik.
Pemerkosaan Atas Nama Cinta adalah seluruh kasus pemerkosaan yang terjadi didalam pacaran, yang melahirkan komitmen-komitmen dan peraturan yang bisa jadi sebagai entry point lahirnya pemerkosaan itu sendiri.
“Pemerkosaan hak asasi cinta” , begitu saya menyebutnya dimana pasangan kita mengekang, melarang, mendikte, mengatur, bahkan memaksa dengan peraturan dan komitmen yang dia buat. Pemaksaan-pemaksaan konsep pribadinya atas nama cinta ini, justru akan bernilai kontra-produktif. Tidak memperbolehkan sang pacar mengerjakan tugas dengan cowok lain, setiap hari wajib lapor via telepon, SMS, ngapel, tidak boleh merokok, tidak boleh jadi aktivis kampus, wajib antar jemput, dll.
Mencintai adalah keinginan untuk selalu memberi, mempersembahkan yang terbaik, menjaga, menghargai pendapat, menjaga kehormatan, dan harga diri orang yang kita cintai. Yang terjadi sekarang justru sebaliknya, katanya mencintai tapi tiap hari hanya menuntut saja tanpa pernah memberi.
Katanya cinta, tapi “kehormatan” sang pacar tidak dijaga, malah diminta sebelum tiba waktunya. Ini cinta macam apa, sementara si cowok malam hari bisa tertidur pulas di “kost-kostan”nya karena kecapean setelah nge-seks dan menikmati ejakulasi, sedangkan si Perempuan tergolek resah, kebingungan, tidak bisa tidur, takut hamil, dan seterusnya. Saya mengkategorikan model pacaran ini ke dalam kelompok pemerkosaan, minimal pemerkosaan terhadap hati nurani, hak untuk tentram dan menikmati rasa nyaman.
Bukannya menyudutkan pihak laki-laki tapi kok saya yakin kalau jarang sekali ada pihak perempuan mengajak terlebih dahulu untuk melakukan hubungan seks, apalagi pada pasangan yang belum punya pengalaman seks, bahkan baru jadian dalam bilangan hari. Saya juga yakin, bahwa pada hubungan seks pertama di luar nikah, pihak wanita tidak dapat menikmatinya karena munculnya rasa takut yang beraneka ragam. Takut hamil, takut dosa, ingat orang tua, dll. Yang selanjutnya akan memperlambat proses lubrikasi (pelumasan) pada vagina hingga saat dilakukan penetrasi (inter course) yang ada hanya rasa sakit bahkan meninggalkan bekas-bekas lecet yang tidak hilang dalam waktu satu atau dua hari. Belum lagi bekas trauma, jika si pacar egois dan memaksa hubungan seks cepat tanpa fore play (pemanasan). Belum lagi ditambah pihak laki-laki yang belum terlatih emosinya hingga baru digesek sedikit langsung “keluar” atau dalam istilah lain “peltu” (nempel metu/keluar). Apa nikmatnya hubungan seks yang demikian. Sama persis dengan semangat pemerkosaan, yang serba buru-buru, takut ketahuan, dan pengen kabur secepatnya dari lokasi kejadian.
Belum lagi ancaman-ancaman dan pemaksaan yang dirangkai dalam kata-kata halus, lemah lembut dan penuh simpatik. Tipe laki-laki yang sabar untuk memasukkan doktrinnya perlahan-lahan dalam mengubah paradigma konsep pacaran sang pacar, jauh lebih berbahaya daripada kelompok terakhir yang brutal dan lebih mudah mengeluarkan ancaman.
Apa yang harus kita lakukan jika sudah kadung cinta, dan mengikat diri dalam komitmen pacaran? Jika pada diri pacar kita ada 5% saja dari yang saya deskripsikan, maka secepatnya ambil sikap. Apa sikap yang harus diambil, itu pilihan kita. Namun, jika kita tidak sanggup bertindak tegas, yakinlah dampaknya akan sangat berta di kemudian hari.
Kita ingin bertahan dan mengubah pacar kita? Sejauh mana determinasi dan stamina iman kita sanggup mempertahankan idealisme kita. Iman manusia pasti mengalami fluktuasi. Apalagi jika dihadapkan dengan tipe laki-laki penyabar, yang tahu benar kapan waktunya bersabar dan kapan mengambil kesempatan emas.
Dan kembali kita harus menekankan bahwa mencintai tidak sama dengan mengekang, memaksa dengan gaya bahasa apapun dan atas alas an apapun. Jika orang yang kita cintai tadi benar-benar mencintai kita, dia akan benar-benar menjaga kehormatan kita dan menunggu hingga waktunya tiba. Mencintai juga sekaligus harus menjaga harga diri sang pacar.
No comments:
Post a Comment