Saturday, July 15, 2006

No Sex Before Marriage

Sadarkah kita, bahwa saat ini kita berhadapan dengan kampanye-kampanya sesat. Seks sedang dibumikan dengan jargon-jargon safe sex dtau seks aman, sex is your choice (seks adalah pilihan anda). Atau juga anak muda berhak untuk menikmati seks, asalkan aman dan dilakukan dengan orang yang dicintai.
Saya pribadi tidak setuju dengan jargon-jargon tersebut dan bingung untuk menyikapi masalah ini. Saya lebih setuju dan ingin mengkampanyekan
“No Sex Before Marriage”
Saya mengetuk untuk bersama-sama mengkampanyekan gerakan antiseks pranikah tadi. Tidak ada istilah safe sex (seks aman) untuk pasangan-pasangan yang tidak terikat oleh lembaga pernikahan. Selain penyakit medis, aktivitas seks pranikah akan menambah penyakit baru bagi masyarakat. Kampanye penggunaan kondom untuk menghadang HIV / AIDS sama saja dengan legalitas seks. Siapapun yang mendalami masalah ini tahu bahwa pori-pori kondom tidak akan dapat menghalangi masuknya virus HIV yang ribuan kali lebih kecil daripada pori-pori kondom itu sendiri.
Apa yang akan terjadi berikutnya jika remaja dan kaum mudanya seperti kita mengalami sex addicted (kecanduan seks). Pasangan yang sudah menikah tahu perbedaan kualitas kenikmatan seks menggunakan kondom atau polosan saja. Keinginan untuk mencoba aktivitas seks tanpa pengaman tetaplah besar. Cairan pelican pada kondom akan meminimalisasi daya cengkeram vagina hingga konon katanya seks menjadi tidak sangat nikmat. Karena itu sedikit sekali pria penyuka tuna susila bersedia menggunakan kondom dalam kontak seksnya dengan pelacur.
Satu, dua kali menggunakan kondom untuk menghindari kehamilan, berikutnya muncul rasa ingin tahu dan mencoba tanpa pengaman. Satu, dua kali aman hingga keterusan.
Toh peluang kehamilan juga menjadi sangat besar. Belum aktivitas seks di luar nikah akan menghasilkan tekanan psikis yang tidak kecil, yang mengakibatkan deviasi psikis pada pelakunya di masa depan. Manfaat dari seks bebas ini tetap ada yaitu libido tersalurkan, tidak penasaran lagi. Tidur lebih nyenyak. Tapi bagi siapa? Hanya bagi kelompok laki-laki yang mengajak. Tapi manfaat apa yang bisa dipetik jika kemudian muncul rasa takut, frustasi, tiap malam dibayangi kecemasan, lubrikasi yang tidak maksimal dan meninggalkan rasa sakit pada kontak seksual, dll. Dan ini sama juga dengan menciptakan penderitaan sendiri, alias “nikmat membawa sengsara…”
Karena itu, baik laki-laki ataupun perempuan… satu kata kunci yang harus kita pegang erat-erat :
“No Sex Before Marriage…!”
Katakan tidak untuk melakukan seks sebelum menikah.
Tidak adil juga jika kemudian generasi muda yang selalu dipersalahkan tanpa mempersoalkan perilaku seksual yang ditunjukkan oleh bapak-bapaknya. Sebagai orang tua mengharapkan biologis anak-anaknya serta generasi muda bangsa ini secara umum menjadi baik haruslah mengawali dan memulainya dari diri sendiri.
Pelacuran dan prostitusi tidak akan bisa hidup kalau tidak ada Pria Tuna Susila (PTS) yang memanfaatkan jasa mereka. Panti-panti pijat, bisnis salon-salon plus akan gulung tikar, kalau hijab budaya dari masing-masing pribadi kita diperketat.
Tanpa keinginan bersama untuk melakukan perbaikan serta tanpa dukungan rasa tanggung jawab moral kita bersama, dapat kita bayangkan bagaimana wajah Indonesia ini pada masa yang akan datang. Dan tiap-tiap kita memiliki perannya masing-masing guna memberikan warna pada kehidupan masyarakat pada waktu nanti.

Jakarta, 07 Juli ‘06
-dEe-

No comments: