Pada zaman baheula, homoseksualitas dianggap dapat merugikan spesies yang bernama manusia. Kematian bayi dan ibu yang melahirkan amat tinggi, sedangkan teknologi tidak memadai dan alam begitu buas. Belum lagi persaingan antarspesies—berapa banyak jenis mamalia lain di hutan yang dengan senang hati memusnahkan manusia? Seperti juga mamalia yang lain, salah satu naluri yang terkuat mereka adalah mempertahankan hidup mereka sendiri, juga keturunan mereka. Demi mempertahankan hidup, manusia harus berkembang biak.
Untuk itulah, heteroseksualitas menjadi amat penting artinya. Dengan hubungan seksual antara lelaki dan perempuanlah, manusia dapat berkembang biak. Dalam keadaan seperti ini, aktivitas yang tidak mendukung keselamatan dan kesejahteraan golongan, dengan mudah dapat dituding sebagai kejahatan. Homoseksualitas menjadi bentuk pengkhianatan, walaupun hubungan homoseksualitas telah ada sejak zaman dahulu kala.
Akan tetapi, kejahatan itu seringkali amatlah relatif dari zaman satu ke zaman lainnya, dari suatu daerah ke daerah lain. Membaca buku Pramoedya Ananta Toer dianggap sebagai suatu dosa besar pada masa Orde Baru. Tapi, sekarang, buku-buku Pram jadi ngetop. Di India, sampai pada awal abad ke-19, para janda dari kasta tinggi membakar diri hidup-hidup setelah suami mereka meninggal. Para perempuan yang tidak berani masuk dalam api dituduh pengecut dan pengkhianat, bahkan terkadang dianggap berdosa karena tidak menunjukkan kesetiaan pada suami mereka. Sekarang, sudah banyak orang India yang menganggap bahwa sati seharusnya dilarang keras.
Ada juga yang menganggap bahwa homoseksualitas tidak normal dan sesuatu yang tidak normal patutlah dihukum. Tetapi, berapa banyak anak yang dianggap tidak normal? Apakah mereka juga patut dihukum? Apakah anak yang lahir bindeng, harus dihukum karena kebindengannya? Bukankah kebindengan dianggap tidak normal hanya karena kebanyakan orang tidak bindeng? Bukankah kebindengan bisa menjadi sesuatu yang indah?
Bagaimana dengan kegiatan homoseksualitas yang menjijikkan? Dapatkah kita memandang seorang lelaki atau perempuan bercumbu dengan sesama jenis? Orang berkulit hitam juga sempat dipandang menjijikkan di benua Amerika dan Eropa. Bahkan toilet dan tempat-tempat umum untuk orang kulit hitam dibedakan supaya mereka tidak “mencemari” orang kulit putih. Yang menyebabkan mereka dipandang menjijikkan adalah keinginan orang kulit putih untuk menjadi superior. Terkadang, bukankah keinginan para heteroseksual untuk merasa superiorlah yang menjadikan homoseksual menjadi menjijikkan?
Tentu saja saya amat sangat berterimakasih pada para nenek moyang saya yang berabad-abad telah menjalin hubungan heteroseksual dengan penuh dedikasi, sampai akhirnya saya nongol. Tapi keberadaan saya sekarang akan sia-sia, bila saya tidak diterima dan diperlakukan dengan baik oleh keluarga dan masyarakat saya. Bukankah sudah saatnya homoseksual diterima dengan baik oleh masyarakat sehingga mereka tidak perlu menyembunyikan identitas mereka?*
No comments:
Post a Comment